Tuesday, October 28, 2008

Kepada para Mahasiswa yang Merindukan Kejayaan

Assalamualaikum

Sebelum mulai topik kali ini, saya mau mengucapkan selamat hari blog nasional! Ho'oh, kemaren, tanggal 27 Oktober adalah hari blog nasional. Buat para blogger, marilah kita menuangkan ide, berbagi pemikiran, dan berkomunikasi lewat blog tanpa mengesampingkan etika dan moral. Beberapa kali saya sempet menemukan blog yang isinya cerita-cerita asusila, hujatan-hujatan kepada pihak tertentu, membahas masalah SARA, dsb. Hal-hal seperti gitu sebaiknya tidak dibahas dalam blog soalnya blog itu kan media massa, diakses oleh banyak orang yang punya berbagai macam pemikiran, latar belakang budaya, agama. Jangan sampe tulisan kita menyinggung perasaan pihak lain.

Kali ini saya tertarik membahas kontribusi nyata mahasiswa bagi negara Indonesia. Beberapa teman mahasiswa menganggap mengikuti aksi turun ke jalan, menyampaikan sejumlah tuntutan adalah suatu kontribusi nyata mahasiswa yang berperan sebagai golongan intelektual yang menyuarakan kata hati rakyat. Beberapa lainnya (termasuk saya di antaranya) lebih menilai sebuah kontribusi sebagai suatu aktivitas konkret yang dilakukan untuk membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Saya tertarik dengan bahasan seorang dosen di sebuah kelas. Beliau mengomentari aksi mahasiswa yang sering terjadi. Beliau berpendapat seperti ini, "Udahlah, kalian tuh nggak usah banyak demo. Harga yang udah naik ya nggak akan bisa turun lagi. Yang naik ya biarin aja naik. Mendingan kalian tuh melakukan hal lain yang lebih bermanfaat."

Jauh sebelum Beliau berkata seperti itu, saya juga memiliki pendapat yang sama. Ketika seorang mahasiswa melakukan aksi turun ke jalan, motifnya bisa dua. Pertama mengutarakan pandangan, pendapat, pemikiran, atau protes terhadap suatu kebijakan atau keadaan. Kedua, iseng, ikut-ikutan, cari pengalaman. Saya tahu persis beberapa teman mahasiswa ikut aksi turun ke jalan tanpa mengetahui secara pasti apa yang menjadi tuntutan. Mereka hanya sekedar iseng atau cari pengalaman.

Apa manfaat teman-teman turun ke jalan? Dari sekian banyak aksi turun ke jalan dengan berbagai macam tuntutan, berapa tuntutan yang berhasil dikabulkan? Dari sekian banyak aksi turun ke jalan, berapa orang teman-teman yang terluka atau bahkan meninggal? Pertanyaan saya adalah, di mana letak keefektifan aksi turun ke jalan?

Beberapa teman mahasiswa malah melakukan aksi yang berakhir rusuh. Membakar mobil, merusak fasilitas umum, melempar kotoran sapi, melepar batu. Apa itu yang dinamakan mahasiswa? Mahasiswa yang mengaku sebagai kaum intelektual yang menjunjung norma-norma dan mengaku sebagai wakil rakyat yang akan menyuarakan kata hati rakyat?

Ketika pemerintah membuat suatu kebijakan, ketika keadaan di negara tercinta semakin buruk, mahasiswa akan tergerak untuk turun ke jalan. Mereka akan memprotes sejumlah peraturan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Akan tetapi, apa hasilnya? Pemerintah tetap pemerintah, aturan tetap aturan, aksi mahasiswa sering tidak ada hasilnya, nihil.

Sebagai kaum intelektual, bagi saya, mengapa kita tidak memprotes keadaan tersebut dengan cara-cara yang lebih intelek? Misalnya, menulis artikel atau suara pembaca di media massa, internet, atau sejumlah media lainnya. Biasanya aksi yang dilakukan lewat tulisan akan lebih mengundang simpati masyarakat. Selain itu, cara seperti ini dapat membiasakan mahasiswa untuk menulis sehingga akan bermanfaat juga bagi dirinya sendiri.

Kontribusi nyata lainnya sebagai mahasiswa adalah mengajar. Ya, inilah yang saya lakukan. Mengajarkan sejumlah ilmu kepada adik-adik kita yang kurang mampu sehingga timbul semangat untuk belajar.

Ketika harga gas elpiji naik, misalnya, daripada teman-teman sibuk melakukan aksi dengan tuntutan agar pemerintah menurunkan harga gas elpiji, akan lebih baik jika mahasiswa terjun langsung ke lapangan (masyarakat) untuk memasyarakatkan atau memperkenalkan biogas kepada mereka. Hal ini akan membuat masyarakat tidak bergantung pada gas elpiji. Dengan memperkenalkan cara memproses bioetanol maka mahasiswa juga turut serta menciptakan suatu kondisi masyarakat yang mandiri, kreatif, tidak hanya bergantung pada satu hal. Bagi saya, itulah yang dinamakan kontribusi nyata mahasiswa! Konkret, dapat dilihat hasilnya. Dibanding teman-teman melakukan demo. Demo adalah jalan terakhir dari suatu jalan yang paling buntu.

Ketidaksetujuan mahasiswa, pemikiran mahasiswa, lebih baik diungkapkan di media massa melalui cara-cara yang lebih "pintar".

Lagi-lagi, semua kembali kepada individu masing-masing. Bagi saya sebenarnya tidak ada masalah dengan demo mahasiswa selama demo tersebut tertib dan tidak merugikan pihak lain. Meskipun saya sendiri lebih menyukai cara-cara yaang lebih pintar dalam menuangkan rasa ketidaksetujuan atau pendapat kita sendiri kepada bapak/ibu di pemerintahan sana.

Bagaimana pun cara yang dilakukan, sebenarnya tujuan kami, mahasiswa, hanya satu: menuju Indonesia yang lebih baik lagi.

Apakah caranya melalui aksi turun ke jalan, aksi menulis di media, ataupun aksi turun ke masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik. Hidup mahasiswa!

Wassalam

No comments:

Post a Comment