Wednesday, October 29, 2008

Hujan+Banjir+Pengungsi=Saling Menyalahkan

Assalamualaikumm

Pagi-pagi saya udah berangkat ke kampus, untuk apa?? Untuk nyuri-nyuri waktu biar bisa posting dulu sebelum kelas di mulai. Pagi ini dingiiinnn buangeettt setelah semaleman Depok diguyur hujan. Alhasil, selain udara dingin, jalanan juga lebih ramai dari biasanya, terutama di setiap persimpangan jalan yang saya lewati. Wohoho...gak ada hubungannya gituh antara hujan semaleman sama ramenya persimpangan jalan di pagi hari!!

Hmm...kayaknya udah mau musim hujan lagi nih. Kalo udah musim hujan gini, bencana yang sering datang mengiringi musim penghujan adalah bencana banjir. Secara umum, bersumber dari sebuah buku berjudul Basic Environmental Health karangan Annalee Yassi dkk yang (belum pernah selesai) saya baca, bencana terjadi karena 3 hal.

Pertama, bencana merupakan suatu konsekuensi yang harus dibayar untuk menuju kepada kehidupan yang lebih baik, seperti bebas dari kemiskinan. Bisa jadi seperti itu, karena menurut pemikiran saya sendiri, frekuensi bencana akan lebih sering seiring bertambahnya populasi. Bertambahnya populasi merupakan suatu gerbang menuju kesuksesan masa depan! Lagipula, berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian, artinya banyak bencana dahulu baru makmur kemudian! Hoho...sungguh analisis yang
asal-asalan!

Kedua, bencana terjadi akibat arogansi manusia yang melakukan berbagai hal tanpa memperhitungkan konsekuensinya. Nah, ini lebih logis lagi. Sekarang ini banyaakkk sekali berkembang perumahan-perumahan baru di berbagai tempat. Perumahan tersebut dibangun dengan cara membabat hutan bakau, reklamasi pantai, pembabatan hutan dengan sistem Tebang Pasti Tanam Insya Allah. Akhirnya daerah resapan air berkurang, ruang hijau berkurang, eng...ing...eng...banjirr deh!!

Ketiga, bencana merupakan suatu masalah yang merepresentasikan kesalahan pemerintah dan masyarakat yang ingin hidup dengan mudah tanpa memerlukan kerja keras. Sesuai fitrahnya, manusia memang senang dengan segala kemudahan. Hidup layak tanpa banyak kerja keras. Salah satu
caranya adalah korupsi, misalnya. Sementara di sisi lain, Allah telah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalo kaum tersebut tidak mau merubah nasibnya sendiri. Mungkin bencana itu terjadi sebagai suatu cara Allah menegur hamba-hamba-Nya yang khilaf. Masalahnya, manusia suka nggak sensitif kalo ditegur.

Ketika hujan lebat, banjir melanda, maka dapat ditebak kasus selanjutnya adalah pengungsi. Masalah tidak berhenti sampai di situ. Selanjutnya penyakit seperti diare, leptospirosis, ISPA, scabies, akan mewabah. Huhh...rumit ya!

Saatnya bergerak! Lebih baik kita melakukan pencegahan dari sekarang sebelum bencana itu terjadi dan semakin menjadi-jadi. Beberapa waktu lalu, saya sempat menonton berita mengenai antisipasi masyarakat dalam menghadapi banjir tahun ini. Beberapa di antara mereka yang hidup di daerah rawan banjir diwawancarai. Begini jawabannya

"Kami sudah melakukan pembersihan kali agar air tidak tergenang. Ya harapan saya sih masyarakat jangan lagi membuang sampah sembarangan." Yak bagus, jangan buang sampah sembarangan sekaligus juga jangan bikin AMDAL sembarangan.

Ada juga yang menjawab begini, "Ya kalo saya sih harapannya agar pemerintah segera mengangkut sampah-sampah yang tergenang di kali."

Ini yang menarik. Buat saya, itulah contoh masyarakat awam yang terlalu banyak "disuapi". Mengapa mesti mengandalkan pemerintah? Pemerintah punya segudang urusan lain yang lebih penting seperti proyek-proyek besar dibanding ngurusin sampah di kali, jalanan rusak. Kita ini hidup di Indonesia, negara yang menuntut kita untuk menjadi warga yang mandiri. Tidak mengandalkan pemerintah sebab pemerintah punya berbagai macam "urusan pribadi". Kalo apa-apa mesti nunggu pemerintah, liat aja, kita akan sulit maju!

Pemandangan lain yang mengganggu buat saya adalah sebuah pertanyaan umum yang dilontarkan oleh wartawan kepada korban banjir. Sang wartawan akan menanyakan sebuah pertanyaan seperti ini, "Bantuan apa yang telah Anda terima selama berada di pengungsian?"

Pertanyaan seperti itu sangat tidak mendidik masyarakat menjadi masyarakat yang lebih maju dan mandiri. Pertanyaan tersebut seolah membiarkan korban pengungsian untuk terus memohon belas kasihan orang lain. Pertanyaan tersebut juga malah membuat pengungsi menyalahkan pihak lain, dalam hal ini pihak yang memberi bantuan, sebab rata-rata mereka akan menjawab, "Belum. Kami belum terima apa-apa."

Dengan pertanyaan tersebut, wartawan juga seakan-akan berusaha mengekspose kebobrokan pemerintah. Seolah-olah pemerintah lamban dalam memberikan bantuan kepada pengungsi. Padahal, percaya deh, meskipun pemerintah tidak terlalu sigap tetapi LSM dan organisasi kemasyarakatan akan turut membantu. Lagipula, pemerintah pasti akan berusaha semaksimal mungkin menangani korban banjir meskipun di mata masyarakat, pemerintah dianggap tidak melakukan apa-apa. Hal ini wajar sebab masyarakat memang sudah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah sehingga apapun yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat akan tetap tidak puas.

Seharusnya, pertanyaan yang lebih pintar dan lebih mendidik masyarakat agar menjadi warga yang mandiri adalah, "Apa yang telah Anda lakukan untuk menolong pengungsi yang lain?" Selain lebih enak di dengar, pertanyaan semacam itu juga akan mendorong orang untu berfikir, "Iya ya? Kenapa mesti menunggu uluran tangan? Kenapa kita nggak berusaha menolong diri kita sendiri dan korban lainnya?"

Yeahh, punya pikiran kayak gitu kan lebih asik, lebih memotivasi kita untuk terus maju dan nggak bergantung pada orang lain.

Bencana memang terjadi tanpa diundang, tanpa kita tahu kapan datangnya. Bencana memang bisa merenggut apa saja yang kita sayangi dan cintai, keluarga, harta benda. Akan tetapi percayalah bahwa Allah akan tetap setia mendampingi kita kapanpun. Percayalah bahwa Allah memberikan bencana bukan karena Ia membenci kita tapi justru karena Ia sangat mencintai kita. Allah mengajak kita kembali ke jalan-Nya atau bahkan lebih dekat lagi pada-Nya lewat cara yang mungkin tidak kita sukai.

Ketika kita jatuh, mundur beberapa langkah, sadarlah bahwa sebenarnya kita sedang mengambil ancang-ancang untuk dapat melesat jauh beribu-ribu langkan lebih maju dari sebelumnya. Coba liat atlet lompat jauh. Kalo dia mau lompat maka dia pasti akan ambil ancang-ancang yang jauh dari garis loncat. Biar apa coba? Biar dia bisa lompat sejauh-jauhnya! Selalu ada hikmah di balik peristiwa.

Sekian postingan kali ini. Saya ini hanya manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan. Kalo ada pihak-pihak yang tersinggung dengan postingan ini, saya mohon maaf. Mohon agar blog ini jangan di block sebab saya hanya seorang mahasiswa yang sedang banyak belajar untuk menuliskan ide dan pemikiran saya.

Wassalam

No comments:

Post a Comment